Menganalisis minat Anak
Banyak orang tidak mengerti arti sebenarnya istilah “minat” (interest). Akibatnya, mereka sering mengacaukannya dengan apa yang tepatnya dapat disebut suatu “kesenangan” (whim). Suatu “minat” telah diterangkan sebagai “sesuatu dengan apa anak mengidentifikasikan keberadaan pribadinya”.

Minat merupakan sumber motivasi yang mendorong orang untuk melakukan apa yang mereka inginkan bila mereka bebas memilih. Bila mereka melihat bahwa sesuatu akan menguntungkan, mereka merasa berminat. Ini kemudian mendatangkan kepuasan. Bila kepuasan berkurang, minat pun berkurang. Sebaliknya, kesenangan merupakan minat yang sementara.

la berbeda dari minat bukan dalam kualitas melainkan dalam ketetapan (persistence). Selama kesenangan itu ada, mungkin intensitas dan motivasi yang menyertainya sama tinggi dengan minat. Namun ia segera mulai berkurang karena kegiatan yang ditimbulkannya hanya memberi kepuasan yang sementara. Minat lebih tetap (persistent) karena minat memuaskan kebutuhan yang penting dalam kehidupan seseorang.

Setiap minat memuaskan suatu kebutuhan dalam kehidupan anak, walaupun kebutuhan ini mungkin tidak segera tampak bagi orang dewasa. Semakin kuat kebutuhan ini,semakin kuat dan bertahan pada minat tersebut.

Selanjutnya, Semakin sering minat diekspresikan dalam kegiatan, semakin kuatlah ia. Sebaliknya minat akan padam bila tidak disalurkan. Bila misalnya lingkungan ternpat anak hidup membatasi kesempatan bermain dengan anak lain, minat terhadap teman bermain mulai berkurang dan minat lain akan menggantikannya. Bila anak dapat menemukan pengganti teman bermain yang memuaskan, akan tiba suatu saat mereka merasa kurang berminat terhadap teman bermain. Anak itu kemudian bahkan menyatakan bahwa teman sebaya “membosankan”-nya.

Suatu kegiatan yang tidak memuaskan, merangsang atau menantang individu disebut “membosankan”: individu tidak mampu melihat bagaimana kegiatan itu dapat memberikan keuntungan pribadi atau kepuasan. Jadi kebosanan, yang terdiri atas perasaan jemu dan ketidakpuasan, merupakan lawan dari minat.

Pentingnya Minat
Mereka dewasa. Semakin yakin mereka mengenai pekerjaan yang diidamkan, semakin besar minat mereka terhadap kegiatan, di kelas atau di luar kelas, yang mendukung tercapainya aspirasi itu. Minat menambah kegembiraan pada setiap kegiatan yang ditekuni seseorang. Bila anak-anak berminat pada suatu kegiatan, pengalaman mereka akan jauh lebih menyenangkan daripada bila mereka merasa bosan.

Lagi pula, jika anak-anak tidak memperoleh kegembiraan suatu kegiatan, mereka hanya akan berusaha seperlunya saja. Akibatnya, prestasi mereka jauh lebih rendah dari kemampuan mereka. Ini menjadikan mereka merasa bersalah dan malu, sikap ini lebih mengurangi kesenangan mereka pada kegiatan tersebut.

Aspek-aspek Minat
Semua minat mempunyai dua aspek yaitu aspek kognitif dan aspek afektif. Aspek kognitif didasarkan atas konsep yang dikembangkan anak mengenai bidang yang berkaitan dengan minat. Misalnya, aspek kognitif dari minat anak terhadap sekolah.

Bila mereka menganggap sekolah sebagai tempat mereka dapat belajar tentang hal-hal yang telah menimbulkan rasa ingin tahu mereka dan tempat mereka akan mendapat kesempatan untuk bergaul dengan teman sebaya tidak dapat pada masa pra sekolah. Minat mereka terhadap sekolah akan sangat berbeda dibandingkan bila minat itu didasarkan atas konsep sekolah yang menekankan frustrasi dan pengekangan oleh peraturan sekolah dan kerja keras untuk mengahafal pelajaran.

Karena minat masa kanak-kanak cenderung egosentris, aspek kognitif minat ini berkisar sekitar pertanyaan apa saja keuntungan dan kepuasan pribadi yang dapat diperoleh dari minat itu. Sebagai contoh, anak ingin merasa yakin bahwa waktu dan usaha yang dihabiskannya dengan kegiatan yang berkaitan dengan minatnya akan memberinya kepuasan dan keuntungan pribadi.

Bila terbukti bahwa ada keuntungan dan kepuasan, minat mereka tidak saja menetap melainkan juga menjadi lebih kuat tatkala keuntungan dan kepuasan menjadi nyata. Hal sebaliknya akan terjadi bila tidak terdapat atau hanya terdapat sedikit keuntungan atau kepuasan pribadi.

Konsep yang membangun aspek kognitif minat didasarkan atas pengalaman pribadi dan apa yang dipelajari di rumah, di sekolah, dan di masyarakat, serta dari berbagai jenis media massa. Dari sumber tersebut anak belajar apa saja yang akan memuaskan kebutuhan mereka dan yang tidak.

Aspek afektif atau bobot emosional konsep yang membangun aspek kognitif minat dinyatakan dalam sikap terhadap kegiatan yang ditimbulkan minat. Seperti halnya aspek kognitif, aspek afektif berkembang dari pengalaman pribadi, dari sikap orang yang penting, yaitu orangtua, guru dan teman sebaya, terhadap kegiatan yang berkaitan dengan minat tersebut, dan dari sikap yang dinyatakan atau tersirat dalam berbagai bentuk media massa terhadap kegiatan itu.

Bagaimana Minat Dipelajari
Umumnya, minat bertumbuh dari tiap jenis pengalaman belajar. Pertama, dalam belajar coba-ralat, anak-anak menernukan bahwa sesuatu menarik perhatian mereka. Minat yang diperoleh dengan cara ini mungkin berlangsung lama atau mungkin ternyata merupakan kesenangan, yang Bila dikombinasi dengan bimbingan coba-ralat merupakan cara yang berharga untuk mengembangkan minat baru karena anak mempunyai kesempatan mencoba apa yang menarik bagi mereka melihat apakah hal itu benar-benar memenuhi kebutuhan tertentu dalam kehidupan mereka atau tidak.

Kedua, dalam belajar melalui identifikasi dengan orang yang dicintai atau dikagumi, anak-anak mengambil. minat orang lain itu dan juga pola perilaku mereka, sebagai contoh,bila ayah dan seorang anak laki-laki berminat mengutak atik motor sebagai suatu hobi, maka anak itu akan mengembangkan minat yang serupa sehingga ia dapat ikut serta dalam kegiatan bersama ayahnya.

Pokok penting mengenai metode belajar minat ini harus dicatat. Pertama-tama, jika anak tidak mempunyai keterampilan atau kemampuan untuk mempertahankan minat ini, minat tersebut akan memberinya sedikit kepuasan dan akan segera mnghilang. Hal kedua yang sama pentingnya, sumber entifikasi bergeser dengan bertambah nya usia anak. Bila hal ini terjadi, anak kemudian mencoba untuk mencontoh orang lain dengan siapa ia mengidentifikasi dirinya. Ini berarti suatu pergeseran minat yang mungkin menyebabkan konflik antara minat baru yang sedang dikembangkan dengan minat lama.

Ketiga, minat mungkin berkembang melalui bimbingan dan pengarahan seseorang yang mahir menilai kemampuan anak. Karena metode belajar ini memperhitungkan kemampuan anak, lebih besar kemungkinannya ia membuahkan perkembangan minat yang akan memuaskan kebutuhan anak dari pada cara belajar coba-ralat atau identifikasi. Karena perbedaan dalam kemampuan dan pengalaman belajar, minat anak bervariasi, terutama minat anak yang bervariasi.

Kebutuhan Anak Usia Dini
Sejak anak lahir, secara instink ia membutuhkan air susu ibu untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Air susu ibu mengandung unsur-unsur kimia yang dibutuhkan oleh tubuh baik dalam pertumbuhannya dari hari ke hari. Kalau kebutuhan ini tak terpenuhi, maka bayi akan secara spontan menangis sebagai reaksi atas rasa haus dan lapar yang belum terpenuhi.

Bayi akan menunjukkan kegembiraan, misalnya dengan senyum apabila kebutuhannya telah terpenuhi. Dengan demikian dalam kehidupan awal seorang anak, ada tiga kebutuhan pokok yang memerlukan perhatian, yaitu kebutuhan jasmaniah, sosial, dan psikologis. Ketiga kebutuhan itu sangat berperan dalam menciptakan kondisi kebahagiaan pada masa awal kanak-kanak.

1) Kebutuhan Jasmani
Kebutuhan jasmani atau sering disebut juga kebutuhan biologis meliputi kebutuhan untuk makan, minum, dan pakaian. Pemenuhan atas kebutuhan ini merupakan tugas dan tanggung jawab orangtua dan pengasuh. orangtua adalah pengasuh utama dan pengasuh hanya membantu orangtua. Keduanya harus senada dalam memperhatikan kebutuhan makanan, minuman, dan pakaian yang cocok untuk anak yang sesuai dengan situasi dan kondisi. Selanjutnya orangtua dan pengasuh harus memperhatikan makanan dan minuman tertentu yang menjadi kesukaan anak, dengan memperhatikan faktor gizi dan kebersihan. Begitu juga makanan tertentu yang dapat mengganggu kesehatan anak harus dihindari. Makanan yang bergizi dengan tingkat kebersihan yang terjamin akan mendukung anak untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan tahap-tahap perkembangan tertentu. Selain itu, untuk memelihara kesehatan anak, orangtua harus mengetahui jenis-jenis makanan yang mengandung gizi yang sesuai dengan tingkat kebutuhan anak. Sebaliknya orangtua dan pengasuh yang tidak atau kurang memperhatikan kebutuhan gizi anak dapat menyebabkan anak akan mengalami gangguan dalam perkembangan fisik karena sering sakit-sakitan dan tidak dapat melakukan aktivitas seperti anak yang sehat pada umumnya. Dalam upaya memelihara kesehatan anak yang optimal, juga sangat dibutuhkan lingkungan tempat tinggal dengan air dan sanitasi memadai serta udara yang segar untuk dihirupnya setiap hari. Selain itu, anak juga memerlukan tempat dan kesempatan untuk bermain dan beristirahat. Antara bermain dan beristirahat harus ada keseimbangan sehingga melalui bermain anak dapat bergerak. Di samping kegiatan bermain, anak juga memerlukan kegiatan istirahat. Yang dimaksud dengan beristirahat adalah anak berhenti dari segala aktivitasnya seperti tidur. Dengan istirahat anak dapat memulihkan tenaga yang terpakai pada waktu bermain.

2) Kebutuhan Sosial
Setiap orang mempunyai kebutuhan mendapatkan penghargaan dari orang lain seperti pengakuan terhadap sesuatu yang telah dilakukannya. Dengan penghargaan seperti ini ia akan merasa berguna karena mampu memberikan sesuatu atau dapat berperan untuk membantu orang lain. Begitu pula dengan anak-anak, mereka merasa senang apabila melakukan sesuatu dan mendapat penghargaan dari guru, orangtua, dan atau dari orang dewasa yang lain. Dengan demikian, anak yang melakukan sesuatu yang baik patut mendapatkan penghargaan. Penghargaan yang berulang-ulang akan menumbuhkan kepercayaan pada diri anak. Selain itu, anak juga membutuhkan kasih sayang dari orangtua dan orang dewasa yang lain. Dengan diberikannya kasih sayang yang tulus, anak akan, merasa bahagia dan gembira sehingga anak bebas dari ketegangan-ketegangan. Kasih sayang yang diberikan orangtua atau orang dewasa yang lain dapat berbentuk kata-kata, sikap dan perbuatan seperti memberi senyum atau membelai. Selanjutnya antara penghargaan, kasih sayang dan persahabatan merupakan hal yang saling berhubungan satu dengan lain. Anak-anak membutuhkan suatu persahabatan yaitu yang antara anak dengan orangtua atau orang dewasa yang lain atau dengan remaja atau dengan teman sebaya. Namun yang paling menonjol di sini adalah hubungan antara teman sebaya karena mereka bisa saling berkomunikasi tentang kebutuhan dan keinginan mereka. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tugas orang dewasa adalah membantu anak agar dapat bergaul dengan teman sebayanya.

3) Kebutuhan Psikologis
Anak akan merasa aman apabila merasa bahwa orang dewasa telah menerimanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Sebaliknya, anak akan merasa terganggu apabila mendapat perlakuan yang kurang tepat dari orang tua seperti kurang peduli, kurang memberi perhatian yang wajar, acuh tak acuh, membiarkan anak atau terlalu memanjakan anak. Kondisi dan pola pengasuhan seperti ini akan menimbulkan efek perkembangan psikologis yang merugikan anak, seperti timbul perasaan cemas, malu, tidak percaya diri, menjauhkan diri dari teman-teman atau sebaliknya anak akan bersifat agresif. Selain itu, masa kanak-kanak merupakan masa munculnya rasa ingin tahu (sense of curiosity) yang tinggi, terutama pada usia 3 – 4 tahun. Keadaan ini disebut Montessori (1983) sebagai masa peka. Anak akan bertanya tentang apa saja yang ada di lingkungannya, apalagi kalau obyek itu masih baru dan belum diketahui sebelumnya. Para ahli psikologi anak berpendapat bahwa pada usia ini anak menganggap dirinya sebagai pusat segala-galanya.
Karenanya masa ini juga sering disebut sebagai mas egosentrisme. Meski demikian, otoritas anak pada masa ini sangat penting bagi proses perkembangan intelektual. Anak merasa tidak mendapatkan kepuasan apabila orang tua dan lingkungannya tidak bisa memenuhi kebutuhan rasa ingin tahunya. Untuk itu orangtua atau orang dewasa yang lain hendaknya dengan senang hati dan tidak bosan dapat menjawab dan menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *