Suatu siang, dalam obrolan santai seputar pendidikan agama untuk anak, seorang teman menarik kesimpulan yang cukup menohok: “Kalo lo nggak nganggep anak sebagai investasi lo, jadi apa dong?” Menohok dengan keras, sekeras jawaban spontan saya padanya, “Ya sebagai amanah, anugrah, apapun itu, pastinya sangat jauh dari konsep investasi.”

Teman saya ini sebenarnya baik hati, tapi banyak hal yang akhirnya tidak saya setujui. Namun, rupanya ia tidak sendiri yang memiliki pandangan ini. Setidaknya saya menemukan aneka artikel bertopik sama, di mana anak ditempatkan sebagai bentuk investasi masa depan ORANGTUAnya.

Mudahnya mendapatkan artikel ini ditambah beberapa teman yang alim dan rada alim pun mengiyakan konsep ‘anak = investasi’, membuat saya percaya bahwa marak juga dalam aneka ceramah agama yang memberi arahan pentingnya pendidikan untuk anak. Jangan salah, saya seribu persen setuju pentingnya pendidikan untuk anak. Tetapi arahan itu kemudian berujung pada keuntungan yang akan diraih orangtua.

Jika berhasil mengasuh dan mendidik anak, anak tersebut akan memberi kebanggaan, kesejahteraan dan bantuan di akhirat kelak. Karena salah satu amalan yang tidak terputus setelah seseorang meninggal adalah doa dari anak yang soleh/solehah. Ini dia yang begitu mengganjal di saya. Bukan pada Hadist Riwayat Muslim tentang amalan yang tidak terputus, tetapi cara pendekatan yang berpusat pada keuntungan yang didapat orangtua. Pendekatan yang terasa penuh pamrih.

Kenapa harus menggunakan sudut pandang ini saat berbagi cara mengasuh dan mendidik anak? Kenapa harus anak ditempatkan sebagai obyek dan orangtua sebagai penerima keuntungan (investasi)? Apakah ini salah satu penyebab orang-orang berusaha keras untuk punya anak? Bagaimana dengan pasangan tanpa anak? Jika hanya bersandar pada HR Muslim tersebut tanpa melihat sudut pandang lain tentang eksistensi anak, maka orangtua yang berbondong-bondong menjadikan anak sebagai investasi secara tidak langsung menempatkan Allah YME bersifat diskriminatif. Ada kelompok yang diuntungkan (karena punya anak) dan kurang beruntung (karena tidak ada anak alias tidak ada bahan investasi).

Pertanyaan-pertanyaan ini berkecamuk di benak saya berhari-hari hingga saya putuskan untuk dituliskan saja sekalian. Dengan harapan, teman-teman bisa memahami sudut pandang lain dan sukur-sukur berhenti menempatkan anak sebagai investasi untuk alasan yang egois begitu! Konsepnya sederhana: jika Anda dipercaya Allah menjadi orangtua, maka jalankanlah amanah tersebut dengan sebaik-baiknya. Bukan memanfaatkan untuk kepentingan diri sendiri.

Saya ingat saat kecil dulu pernah menggugat ibu saya, yang saat itu menurut saya banyak sekali aturannya. Saya bilang, “Saya kan nggak pernah minta dilahirkan!” Dan tentu saja ibu saya tidak bisa menggugat takdir Allah. Hanya Allah yang tahu mengapa kita diciptakan dan dilahirkan melalui seorang ibu atau menjadi anak dari sepasang manusia yang ditetapkan Allah sebagai orangtua kita.

Bahkan hingga akhirnya saya dipercaya menjadi seorang ibu, saya tidak lagi bertanya atau mencari jawabannya. Hanya mengimani bahwa Allah sudah ada rencana. Sebagai ibu, saya tidak pernah melihat anak sebagai investasi, seperti yang kerap diucapkan tetangga, kerabat bahkan total strangers pada saya (maupun ibu saya) saat satu persatu saya melahirkan bayi perempuan berdarah campuran. “Wah, anaknya cantik, siap-siap deh ibu jadi banyak rejeki.” Asli, rasanya sebal sekali dengan ujaran semacam ini.

Memangnya kenapa jika anak cantik? Memangnya obyek jualan? Makin cantik makin bisa cari duit dari kecantikannya, makin untunglah sang orangtua? Atau karena cantik akan mudah dapet jodoh sehingga bisa pilih calon mantu dari keluarga kaya raya, lalu orangtua jadi hidup senang? Sependek itukah pemikiran banyak orang tentang memiliki anak?

Pepatah ‘banyak anak banyak rejeki’ bagi saya adalah contoh besarnya kuasa Tuhan. Rejeki tersebut tidak pernah ada parameternya, landasan kuantifikasinya ataupun besaran nilainya. Tentunya saat kita diberi amanah anak oleh Tuhan, rejeki anak tersebut juga sudah disiapkan. Orangtua hanya medium rejeki anak tersebut. Istilahnya, cuma numpang lewat. Orangtua bekerja untuk menafkahi anak, lahir dan batin. Beberapa bagian dari penghasilannya disisihkan untuk dirinya sendiri, itulah rejeki yang Tuhan takar untuknya. Sebagian lainnya untuk anak. Itulah rejeki anak yang numpang lewat (orangtuanya).

Sedihnya, pepatah yang sama bisa diartikan lain. Banyak anak berarti banyak sumber pemasukan (orangtua) di dunia ini. Anak dieksploitasi untuk menghasilkan uang dan dinikmati orangtua. Beberapa orang dewasa yang tidak bermoral mengumpulkan anak-anak malang yang yatim/piatu atau miskin untuk mendatangkan rejeki pada dirinya. Makin banyak kumpulan anak, makin besar pula pendapatan dia. Jika ada orangtua kandung yang berpikiran bahkan melakukan hal serupa, bahkan hura-hura dari hasil pekerjaan anak, apa bedanya mereka dengan germo anak tanpa moral itu?

Ini baru dari sisi material. Belum dari sisi agama, yang menjadi dasar keresahan saya.
Anak adalah investasi bagi orangtua, sehingga orangtua termotivasi untuk menanamkan pendidikan agama (yang seringkali juga di outsource ke pihak lain seperti sekolah/pesantren), berharap anak tersebut menjadi anak soleh/solehan, lalu mendoakan orangtua setiap saat. Lebih parah lagi jika orangtua tersebut kelakuannya minus dan merasa sudah ‘aman’ karena ada anak yang nantinya menolong mereka di akhirat kelak.

Sudah lazim saya ketahui adanya anak-anak di sekolah Islam (juga agama lain) berlatar belakang orangtua pejabat yang nakal dan korup, spesimen artis yang wallahualam sumber kekayaannya, atau pengusaha/politisi yang melakukan praktik tidak terpuji. Jadi mereka pikir, tugas mereka mendidik sudah cukup dengan mencari uang, lalu serahkan bagian lain ke sekolah. Kalau anak nakal, itu salah gurunya. Kalau anak membangkang, itu karena salah didikan di sekolah. Sekolah dan guru (atau plus babysitter) ditekan untuk menciptakan anak sesuai keinginan orangtua, yang nurut, soleh dan solehah, sehingga sang orangtua bebas menjadi pendosa, toh nanti ada doa anak yang akan menolongnya. Yeah, rite!

Okelah kalau tidak mau contoh yang ekstrim, scara umum para orangtua muslim yang cukup agamis akan mendoktrin konsep agama yang dia anut pada anaknya, berharap anak tersebut yang akan membimbingnya di sakaratul maut dan kemudian menolong mereka dari api neraka melalui doa. Wait, bapak dan ibu yakin anaknya sudah masuk kategori soleh/solehan? Atau bapak/ibu yakin pas sakaratul maut ada si anak di sampingnya?

Adilkah ini bagi anak? Tidakkah mereka berhak atas ruang untuk berfikir dan memutuskan? Mereka juga manusia, hanya saja terlahir lebih lambat dan pada suatu rentang masa harus bergantung pada orang dewasa di sekitarnya, terutama orangtuanya. Tapi itu bukan berarti mereka berhutang budi pada kita, pada orangtuanya!

Jika orangtua berpegang pada prinsip anak adalah amanah, maka anak bukanlah obyek melainkan subyek. Mereka sama saja dengan orangtua, sama-sama manusia yang punya akal dan rasa. Mereka bukan investasi untuk kebaikan orangtua, mereka adalah masa depan itu sendiri. Bagi saya, anak itu sendiri adalah rejeki yang luar biasa.

Saya diberi kesempatan untuk belajar, menjadi lebih dewasa dan memiliki cinta berlebih karena hadirnya anak. Sebelum saya memiliki anak kandung, saya sudah mulai belajar tentang banyak hal seperti kesabaran, imajinasi, kejujuran, kepolosan, ketulusan (dan banyak hal lain), melalui anak teman, anak tetangga dan ponakan sendiri. Jadi sesungguhnya, seorang anak adalah rejeki untuk semua orang, tidak hanya orangtuanya semata.

Saya menangkap betapa adilnya pepatah ‘butuh satu kampung untuk membesarkan seorang anak’. Sebab sesungguhnya seorang anak berpotensi membawa perubahan (baik) untuk satu kampung, bahkan lebih! Inilah yang lebih tepat dijadikan makna investasi.

Mendidik anak-anak generasi hari ini dengan baik agar masa depan masyarakat luas juga baik, bahkan lebih baik. Orangtua adalah medium hadirnya anak, menjadi ujung tombak pendidikan dan pengasuhannya. Sementara ‘orang sekampung’ menjadi support system yang tidak bisa dipisahkan. Setiap orang dewasa memiliki tanggung jawab atas anak-anak di sekitarnya, sesuai kapasitas masing-masing.

Kegagalan mengasuh anak dapat berakibat fatal bagi masyarakat umum. Sebaliknya, kesuksesan dalam membesarkan anak akan terlihat melalui peran serta anak tersebut nantinya untuk masyarakat. (Ini juga alasan saya tidak setuju kampanye pernikahan usia dini demi mencegah zina atau dengan bahasa lain, mengakomodasi birahi remaja. Sebab jika mereka saja belum bijaksana dalam mengontrol diri sendiri, apa yang terjadi jika mereka memiliki anak?)

Mendoakan anak menjadi ‘penolong orangtua’ terasa kerdil dibandingkan mendoakan anak menjadi ‘manusia yang berguna’. Ayolah Pak dan Bu, jangan pandang anak Anda sebagai investasi pribadi, dan jangan ajak-ajak orang lain memandang anak sebagai investasi pribadi. Hargai akal dan rasa mereka, seperti Anda ingin dihargai atas pilihan-pilihan Anda oleh orangtua. Jika Allah yang Maha Adil mengetahui tulusnya kita menjaga amanah anak ini, tanpa pamrih, tanpa permintaan pribadi, saya yakin ada kebaikan yang dapat kita tuai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *