Anak yang terbiasa mendapatkan berbagai kemudahan dan fasilitas yang diberikan oleh orang tuanya secara berlebihan menjadi kurang baik. Anak yang terbiasa bergantung pada hal-hal tersebut bisa jadi tumbuh tidak mandiri dan kesulitan beradaptasi saat beranjak dewasa.

Beberapa ahli anak, mengatakan bahwa memanjakan anak terlalu berlebihan dengan segala bentuk materi dan tidak mengajarkan cara menjadi mandiri akan membuat anak keliru memahami nilai uang.

Dicontohkan oleh pengalaman seorang anak konglomerat asal New York, Amerika Serikat, yang bernama Peter Kalmus yang berbagi pengalaman soal kehidupan masa kecil hingga kuliah.

Ia mengisahkan bahwa setiap hari ia menikmati fasilitas terbaik seperti rumah yang paling bagus di New York. Ia juga mengenyam pendidikan di sekolah terbaik, memiliki pembantu untuk membersihkan kamar, dan orang tua yang sibuk tetapi penuh kasih yang mengantisipasi setiap kebutuhan.

“Saya selalu punya mobil dan supir yang siap dihubungi, bahkan di sekolah dasar,” kenang Kalmus.

Sang anak tidak pernah melakukan pekerjaan sambilan untuk menambah uang jajan atau sekedar berhemat. Semua uang saku dihamburkan sesuka hati tanpa batas. Orang tuanya juga terus memberikan fasilitas mewah seperti mobil mewah, pesawat, dan uang tak terbatas.

Akhirnya, saat ia sudah mencapai usia harus mandiri dengan bekerja dan meniti karier, ia menemukan kesulitan. Tidak terbiasa menerima perintah membuatnya banyak terkejut dengan kenyataan hidup. Ia merasa bahwa kehidupan nyata tidak seindah masa kecil.

Dalih ingin membahagiakan anak justru dapat menjadi bumerang karena sejatinya akan membebani kehidupan anak-anak di masa depan.

Menurut Tricia Ferrara, seorang psikolog keluarga sekaligus penulis buku Parenting 2.0 Think in the Future, Act in the Now berpendapat, membanjiri anak dengan kemudahan dan fasilitas justru membuat anak kesulitan di masa depan.

“Hanya memberi anak-anak apa yang mereka inginkan tidak membantu mereka dalam jangka panjang. Saya tahu bagi orang tua, kadang lebih mudah untuk mereka melakukan hal tersebut. Namun, mudah bagi Anda, tidak baik bagi mereka. Mengajari mereka tentang bagaimana mengatur energi untuk mencapai tujuan adalah hal yang lebih penting. Ini adalah keterampilan yang dibutuhkan untuk masa depan,” beber Ferrara.

Pemenuhan berbagai fasilitas itu bisa membuat anak-anak kehilangan beberapa hal dalam perkembangan karakter.

“Anak-anak yang terlahir kaya sering tidak tahu apa yang menjadi kekuatan dan kemampuan utama dalam diri mereka,” kata Rob Stevenson, seorang konsultan manajemen pribadi yang tinggal di Minneapolis.

“Mereka tidak tahu apa yang bisa mereka lakukan karena mereka tidak pernah terbiasa harus mencari tahu,” imbuhnya.

Kebiasaan memberi kemudahan ini akan membentuk pola pikir dan kebiasaan anak. “Seorang anak manja memiliki sindrom Saya Ingin. Pada akhirnya mereka akan memiliki pandangan bahwa hidup tidak baik jika saya tidak mendapatkan keinginan saya,” kata Charles L. Thompson, PhD, seorang profesor psikologi pendidikan dan konseling di University of Tennessee Knoxville.

Namun, saat ini, pola asuh memanjakan anak bagi orang tua yang tergolong mampu sepertinya berangsur memudar.

Rachel Sherman, seorang praktisi sosiologi sekaligus penulis buku Uneasy Street: The Anxieties of Affluence menemukan fakta menarik dan berbeda dengan kisah hidup Peter di atas.

Ia mewawancarai 50 orang pasangan orang tua di New York yang memiliki penghasilan tahunan sedikitnya USD250 ribu atau sekitar Rp3,7 miliar setahun. Mereka ditanyakan tentang harapan dan pola asuh pada anak-anak mereka.

Pertama, para orang tua ini justru membatasi perilaku anak-anak dan konsumsi mereka terhadap barang-barang material, pengalaman hidup, dan kemauan kerja atau usaha. Mereka justru membuat batas-batas pada hak anak untuk mendapat barang-barang secara berlebihan. Dengan demikian mereka berharap akan menumbuhkan kerja keras serta menanamkan etos kerja yang kuat dan rasa mandiri dalam diri anak-anak mereka.

Kedua, para orang tua ini mencoba untuk mengenalkan anak-anak mereka dengan perbedaan kelas, untuk membantu mereka memahami kondisi sosial mereka yang diuntungkan dan memahami kehidupan normal apa adanya. Hal ini memiliki tujuan yaitu, orang tua berharap bahwa memiliki etos kerja yang kuat dan merasa nyaman dengan orang-orang yang berbeda dari diri mereka sendiri akan membantu anak-anak mereka berhasil dalam dunia yang penuh tantangan di masa depan.

Pada akhirnya, penting bagi orang tua untuk dapat membekali anak-anak mereka dengan keterampilan dan bukan sekadar materi sebagai bekal masa depan mereka. Pola asuh yang salah juga dapat membuat anak mudah menyerah, kurang memiliki tanggung jawab hingga sikap tidak hormat dan menantang.

Sumber artikel dan photo : beritagar.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *