Memperkenalkan berbagai bentuk emosi dan ekspresi kepada anak bisa dilakukan dengan cara bercerita atau mendongeng. Anak akan mengetahui bagaimana ekspresi saat sedang gembira, sedih, lucu, marah, dan kesal.
Pengetahuan anak tentang ekspresi itu akan memperkaya pengalaman emosi dan memengaruhi pembentukan dan perkembangan kecerdasan emosional mereka. Anak usia dini atau pada masa golden age (usia emas) menjadi saat tepat mendapatkan stimulasi pendidikan sehingga membantu perkembangan jasmani dan rohani.

Anak pada usia emas mempunyai sejumlah potensi yang bisa dikembangkan sesuai kemampuannya, yaitu kemampuan berbahasa, kognitif, motorik, dan sosial melalui berbagai cara.

Salah satu caranya yaitu dengan mendengarkan cerita. Dikutip dari laman resmi Sahabat Keluarga Kemendikbud, ada tiga manfaat diperoleh seorang anak melalui kegiatan bercerita:

  1. Mengerti alur cerita Mendengarkan cerita membuat anak belajar memahami alur cerita dan membayangkan kejadian sedang diceritakan. Melalui cerita, anak akan terbiasa mendengarkan dan mengingat kosakata baru sehingga memperoleh banyak perbendaharaan kata-kata baru. Selain itu, anak juga akan memahami struktur kalimat lebih kompleks dan belajar menyusun kalimat dengan benar. Hal ini akan merangsang perkembangan bahasa dan kemampuan berbicara anak semakin baik.
  2. Menanamkan nilai moral dan agama Kegiatan bercerita bisa menanamkan nilai-nilai moral dan agama kepada anak. Guru atau orantua dapat menceritakan kisah menarik dengan tokoh berperilaku baik sehingga anak terdorong meniru sikap baik tersebut. Sebagai contoh, ”Anak-anak, Nabi Ismail adalah nabi yang sangat berbakti kepada kedua orangtuanya. Ia selalu menuruti perintah kedua orang tuanya dan selalu membantu ketika orang tuanya membutuhkan bantuan.” Maka secara tidak langsung, anak akan menyerap nilai-nilai moral tentang bagaimana anak harus berbakti kepada kedua orang tuanya. Pada kisah tokoh berperilaku buruk, anak akan memperoleh pelajaran bagaimana akhir dari perilaku buruk yang membawa pada penyesalan. Contoh, ”Malin Kundang dikutuk ibunya menjadi batu karena tidak mengakui dirinya sebagai anaknya.” Melalui cerita seperti ini, anak akan meniru perilaku baik dan menjauhi perilaku buruk. Dengan menggunakan metode bercerita, orangtua dan guru bisa mengenalkan Tuhan kepada anak. Tidak hanya itu, anak juga dapat menceritakan kembali kepada orang tua atau teman-temannya tentang cerita yang pernah dia dengar dengan penuh penghayatan.
  3. Menjalin kasih sayang orangtua dan anak Cerita atau dongeng sebagai pengantar anak tidur berguna untuk menjalin kasih sayang ibu dan anak.
    Misalnya ketika ibu menceritakan kisah Nabi Muhammad SAW yang pemberani dan bijaksana dengan penuh penghayatan sehingga anak akan menghayati isi cerita dan diharapkan anak meneladani, mencontoh, dan mengambil hikmah yang terkandung di dalamnya. Kasih sayang ibu dan anak akan terbangun secara harmonis ketika ibu bercerita menjelang anak tidur. Melalui aktivitas bercerita, ibu dapat berkomunikasi akrab dengan anaknya sehingga memberikan rasa aman dan nyaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *