Belum lama ini Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organisation -WHO) mengungkapkan bahwa sunat pada laki-laki dewasa bisa mengurangi risiko infeksi HIV hingga 60 persen. Angka tersebut kemudian menjadi salah satu acuan rekomendasi untuk sunat.

Proses pemotongan kulit pada kepala penis atau kulit kulup disebut juga Sunat atau khitan atau sirkumsisi. WHO merekomendasikan sunat dilakukan pada bayi laki-laki demi menjaga kesehatan mereka. Kulit kulup yang tidak dibuang bisa menyebabkan penyakit kelamin dan saluran kencing bila tidak dirawat dengan baik. Untuk menghindari kerepotan, sunat menjadi jawaban untuk masalah kebersihan ini.

Waktu paling baik melakukan sunat? Apakah itu pada waktu si Kecil masih bayi atau ketika ia sudah masuk sekolah dasar? Berdasarkan rekomendasi WHO, Popmama.com mengungkapkan fakta tentang sunat untuk Mama pelajari.

Sunat seringkali dikaitkan juga dengan kebudayaan dan agama. Umat Islam, melakukan sunat sebagai bagian dari ibadah mereka. Sunat dimasukan ke dalam 5 hal yang harus dilakukan umat Muslim pria sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai penganut Islam.

Meskipun di dalam Al Quran tidak tertulis tentang kewajiban untuk sunat, namun di dalam kitab tertulis bahwa Nabi Muhammad SAW diminta mengikuti kepercayaan Abraham dan salah satu yang harus dilakukannya adalah sunat.

Sementara itu, umat Kristen tidak mewajibkan sunat meski di dalam kitab suci tertulis bahwa Yesus disunat saat berusia 8 hari. Sunat dilakukan pada bayi laki-laki berumur 8 hari oleh bangsa Yahudi.

Seperti umat kristiani, penganut Budha atau Hindu dan kepercayaan lainnya, tidak mewajibkan sunat.

Salah satu alasan WHO merekomendasikan sunat adalah untuk kesehatan. Selain terbukti mencegah HIV AIDS, sunat telah terbukti mencegah kanker penis. Yang juga telah pasti, sunat mengurangi risiko pria mengalami infeksi saluran kemih.

Sunat membuat urusan kebersihan kelamin laki-laki menjadi lebih sederhana. Kulup yang menutupi kepala penis memang kerap menjadi sarang kuman. Kuman seringkali terperangkap di bawah kulit kulup dan dengan mudah masuk ke saluran kencing karena letaknya yang berdekatan. Penyakit-penyakit lain seperti radang, infeksi, dan iritasi pun dengan mudah dicegah.

Sunat harus dilakukan oleh ahlinya. Sunat dilakukan dengan bius lokal dan tidak memiliki efek samping jika dilakukan dengan benar.

Beberapa kepercayaan dan adat mewajibkan pula anak perempuan untuk menjalani sunat. Tetapi penelitian terakhir menyebutkan bahwa sunat pada anak perempuan tidak bermanfaat dan malah membuat hidup mereka sebagai perempuan dewasa tidak bahagia.

WHO menuliskan bahwa sunat perempuan adalah bentuk tindakan mutilasi yang tidak ada gunanya untuk kesehatan. Sunat perempuan justru membuat fungsi reproduksi perempuan terganggu.

WHO menulis bahwa sunat pada laki-laki, lebih banyak manfaatnya sehingga disarankan untuk dilakukan. Penelitian juga membuktikan bahwa sunat laki-laki tidak memberi efek pada fungsi kelamin mereka kelak. Beberapa kondisi kesehatan pada anak laki-laki justru menyarankan sunat sebagai solusi.

Beberapa gangguan pada penis anak laki-laki membutuhkan sunat sebagai solusi. Gangguan itu adalah:

  • Fimosis yaitu kulup yang terlalu kencang melekat pada kepala penis sehingga tidak dapat ditarik ke belakang kepala penis.
  • Parafimosis adalah kondisi dimana kulup tidak dapat ditarik kembali ke arah kepala penis sehingga menjepit batang penis dan mengganggu peredaran darah pada penis.
  • Balanoposthitis yaitu peradangan di kulup dan menyebabkan perih, gatal, radang, dan penyempitan saluran kencing.
  • Balanitis xerotica obliterans peradangan kronis yang bisa menyebabkan kulup menjadi keras dan berpotensi menjadi kanker penis.
  • Preputial neoplasms, yaitu kulit berlebih dan robekan di kulup.
  • Hypospadias dan epispadias yaitu kelainan bentuk penis yang bisa diperbaiki dengan sunat.

Kapan sebaiknya anak laki-laki disunat?

WHO merekomendasikan usia 7-14 hari sebagai yang terbaik. Alasannya karena di usia ini, bayi belum merasakan sakit sehingga tidak menimbulkan trauma. Lagipula diketahui bahwa di usia ini, pembuluh darah masih kecil sehingga risiko perdarahan minim. Lagipula, di usia dini, proses pemulihan tubuh lebih baik sehingga luka pun bisa segera sembuh.

Meski demikian, banyak adat istiadat dan kepercayaan yang menyarankan sunat dilakukan saat anak laki-laki menjelang dewasa atau sekitar usia 9-12 tahun.

Ahli psikologi menemukan bahwa sunat bisa menimbulkan trauma pada anak-anak dan risiko pascasunat yang lebih rentan infeksi sebab luka membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh. Jadi, mana waktu terbaik, Mama yang menentukan deh! Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *