Sebagian orang tua beranggapan kalau mereka menaikkan nada suara saat berbicara dengan anak-anak mereka sampai lebih dari 10 kali dalam sehari. Menurut pengakuan mereka, hal tersebut terjadi karena mereka ingin anak-anak mereka mendengar perkataaan mereka, tetapi anak-anak tersebut tidak melakukannya atau bahkan justru melakukan yang sebaliknya.

Bila bujukan, janji-janji, dan ancaman tidak bekerja, berteriak kepada anak sepertinya menjadi satu-satunya pilihan hal yang dapat dilakukan. Bahkan ketika anak-anak tidak bereaksi kepada teriakan orang tua mereka, beberapa orang tua akan mulai memberikan hukuman, seperti melarang mereka melakukan hal yang menjadi kesukaannya atau bahwa tidak jarang ada yang memukul anak mereka.

Mungkin perlu diketahui untuk para orang tua, berteriak kepada anak-anak Anda tidak menolong mereka untuk fokus kepada apa yang Anda ingin mereka untuk lakukan. Hal ini justru akan menyebabkan anak-anak membangun dinding pertahanan dengan “tidak mendengarkan” kepada teriakan Anda, berteriak balik, atau bahkan mentertawakan Anda. Tetapi, mereka tidak memproses pesan yang Anda berikan.

Seperti halnya seseorang yang merasa terancam, ia akan membuat tembok penghalang dan berusaha untuk membenarkan perbuatannya. Hukuman yang tidak beralasan tidak akan pernah menyampaikan pesan yang ingin Anda sampaikan, malah dapat menimbulkan kebencian. Hal ini pun berlaku bagi anak-anak Anda. Keresahan pada diri anak akan mengakibatkan komunikasi negatif antara orang tua-anak yang nantinya akan sulit untuk diperbaiki.

Ada beberapa strategi yang dapat Anda coba agar Anda tidak terlalu sering berteriak kepada anak Anda dan untuk mendorong mereka mendengarkan Anda dan mau bekerja sama:

Ajarkan Peraturan Sejak Dini
Kadang-kadang orang tua berusaha agar anak mereka tidak menangis. Mereka menghindari konflik yang dapat terjadi, sehingga tidak menanamkan peraturan sejak dini pada anak-anak. Menghindari konflik yang mungkin timbul saat kita mengajarkan peraturan kepada anak kita sesungguhnya malah akan membuat kita frustasi pada akhirnya nanti.
Menanamkan peraturan sejak dini ketika anak masih kecil, akan menghilangkan masalah sebelum masalah tersebut menjadi besar. Anak akan mengerti bagaimana untuk bersikap dan menjalani aturan yang telah disepakati bersama.

Buat Peraturan dengan Penghargaan dan Konsekuensi Bukan Hukuman
Ketika Anda mulai membuat peraturan bagi anak-anak Anda, mulailah dari yang sederhana. Buat tidak lebih dari 10 peraturan dan sepakati peraturan itu bersama anak Anda. Tuliskan atau gambar peraturan tersebut.
Tentukan penghargaan apa yang anak Anda akan dapatkan ketika mengikuti peraturan, dan tentukan konsekuensi akibat melanggar peraturan. Kuncinya, Anda harus konsisten dalam menjalankan peraturan dengan penghargaan dan konsekuensinya. Perlu diingat pula, bahwa sebagai orang tua, Andalah orang pertama yang harus mengikuti aturan yang telah Anda sepakati bersama anak Anda.

Konsisten dengan Peraturan dan Tetap Utamakan Perasaan Anak
Peraturan seringkali membuat anak-anak merasa tidak senang. Anda tidak dapat mengubah perasaan anak Anda, tetapi Anda bisa menerima perasaan tersebut, berempati dan membimbing anak Anda.
Mereka akan berkembang lebih baik saat Anda menolong mereka untuk mengungkapkan perasaan mereka, dan membimbing mereka untuk merasakan perasaan tersebut dan mengatasinya.

Bertanya bukan Berteriak
Pertanyaan akan mendorong anak untuk lebih bertanggung jawab akan tugas-tugas mereka. Pertanyaan yang dapat Anda tanyakan kepada anak Anda misalnya, “Apa yang kamu perlu lakukan sebelum ___?”

Pertanyaan tersebut dapat membuat anak Anda lebih mau bekerja sama karena pertanyaan ini membuat mereka merasa memiliki kemampuan.

Artinya, daripada berteriak “MENGAPA KAMU BELUM MENYISIR RAMBUT, DAN MANA SEPATU KAMU, ADUH KENAPA KAMU BELUM BERGERAK JUGA…AYO CEPAT!!!” Anda hanya perlu bertanya, “Apa yang harus kamu lakukan sebelum kita pergi?”

Para ahli berpendapat, pertanyaan yang mengundang kerjasama anak lebih berhasil karena berteriak kepada anak hanya akan membuat anak membangun tembok penghalang. Gunakan bahasa yang lebih edukatif untuk membuat mereka bekerja sama dengan Anda.

Atur Harapan Anda sesuai dengan Kapasitas Perkembangan Anak
Anak-anak batita suka menyentuh apa yang mereka lihat. Anak-anak usia TK suka terus bertanya “Mengapa.” Anak-anak usia sekolah biasanya tidak suka membuat PR. Jika harapan orang tua disesuaikan dengan kapasitas perkembangan anak mereka, anak-anak akan dapat mengikuti harapan dan permintaan orang tua, sehingga berteriak kepada anak tidak diperlukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *