Saat orang tua diberikan tanggung jawab mengasuh anak, mungkin merasa sedikit stres saat menghadapi prilaku anak anak. Anak-anak zaman sekarang lebih pintar, begitu mungkin kata Anda, sehingga selalu punya alasan untuk tidak mematuhi peraturan.

Anak sekarang selalu tahu bagaimana membantah ucapan Anda. Hal ini membuat Anda khawatir anak-anak tidak merespons apapun yang Anda minta. Bila sudah merasa gagal meminta anak melakukan apa yang Anda mau, Anda pun langsung balik merespons dalam bentuk bentakan, pendek kata yang bisa menunjukkan power Anda sebagai orangtua.

Kebuntuan kerap membuat anda berusaha mengembangkan pola pengasuhan yang berbeda, namun tetap tak ada hasilnya. Maklum, sikap membangkang anak-anak itu sudah terbentuk sejak lama sehingga sulit untuk diubah. Benarkah sudah terlambat untuk mengubah cara mengasuh anak-anak ketika karakter mereka sudah terbentuk?

Menurut James Lehman, terapi perilaku anak-anak, tidak ada kata atau terlambat untuk mengubahnya. Mungkin memang tidak gampang, tetapi ada cara efektif yang bisa mulai Anda lakukan untuk mengubah cara Anda merespons dan memperbaiki perilaku anak-anak.

  1. Tentukan hal yang dapat Anda lakukan lebih dulu.
    Salah satu hal yang menghambat adalah ketika Anda tidak mengetahui harus mulai dari mana. Namun, mulailah dari hal-hal sederhana yang menempatkan anak dalam kondisi berisiko secara emosional maupun fisik. Misalnya, ketika anak menciderai anak tetangga, merusak mainannya, atau nekad menyeberang jalan. Tentu Anda tidak dapat mengubah semuanya sekaligus. Anda harus mulai membicarakan tentang nilai-nilai dan moral kepada anak-anak, hal-hal yang membahayakan dirinya dan anak-anak lain.
  2. Mulailah satu-persatu.
    Ketika anak merasa kesal lalu masuk ke kamar dan membanting pintunya sambil membentak Anda, lakukan satu hal yang ingin Anda ubah pertama kali. Anda bisa menegurnya dengan mengatakan, “Jangan menyumpah, itu tidak sopan dan tidak menyelesaikan masalah. Lagipula, kamu bikin Ibu sedih. Bisa enggak lain kali kamu tidak menyumpah ketika sedang kesal?” Lalu, berikan pilihan mengenai apa yang harus dilakukannya. Misalnya, masuk ke dalam kamar supaya bisa menenangkan diri. Setelah urusan menyumpah itu selesai, Anda bisa menuju ke persoalan lainnya. Ubahlah satu demi satu perilaku yang Anda rasa salah. Jangan mencoba untuk mengatasi semuanya sekaligus.
  3. Jelaskan perubahan yang Anda inginkan.
    Jika Anda akan melakukan pendekatan baru saat menghadapi perilaku anak yang salah, ada baiknya apabila Anda menjelaskan alasannya kepada si buah hati. Mungkin hal tersebut akan membuat anak Anda marah dan frustrasi. Namun jangan biarkan kemarahan tersebut dijadikan anak untuk berargumentasi dengan Anda. Katakan bahwa Anda mengerti bahwa ia kesal, namun minta ia untuk bekerja sama sebagai sebuah keluarga. Disarankan juga agar Anda tidak berbicara panjang-lebar, tidak spesifik, dan tidak terfokus, agar anak lebih mudah menerima atau memahami apa yang Anda inginkan.
  4. Katakan kepada anak tujuan Anda mengubah peraturan.
    Dengan mengatakan tujuan yang diharapkan, Anda memberikan kepercayaan kepada buah hati Anda untuk membantu mewujudkan perubahan tersebut. Sangat penting untuk menyadari bahwa apa yang keluar dari mulut Anda tidak selalu dipahami anak seperti yang Anda inginkan. Ketika anak tidak mengerti apa yang Anda bicarakan, mereka dapat menjadi frustrasi, khawatir, dan marah, meskipun mungkin mereka mencoba untuk tetap tenang. Apapun itu, Anda dapat mengatakan, “Mari kita lihat jalan keluarnya.” Itu adalah salah satu cara untuk mendekati anak Anda dan mengubah persepsi hubungan antara Anda dan dia.
  5. Membatasi peluangnya.
    Jika Anda khawatir anak akan melakukan sesuatu yang merugikan, salah satu yang dapat Anda lakukan adalah membatasi peluang anak untuk melakukan hal-hal tersebut. Misalnya, si ABG Anda senang mengendarai mobil dengan ceroboh. Ia tidak mau menuruti aturan Anda untuk mengemudi dengan aman. Maka yang bisa Anda lakukan adalah menyita mobilnya. Itulah yang terjadi ketika Anda membatasi peluang anak untuk membawa mobil. Membatasi peluang adalah salah satu cara paling sederhana untuk membentuk perilaku anak. Anda bisa mengembalikan mobil tersebut ketika ia sudah bisa menunjukkan perubahan perilakunya.
  6. Jangan mengharapkan empati anak.
    Meminta empati bukanlah pendekatan yang dapat meyakinkan anak Anda, terutama bagi anak-anak remaja yang cenderung kurang berempati pada orang lain. Untuk mengubah sesuatu, Anda harus menunjukkan akibat yang ditimbulkan dari perilaku anak Anda. Jika ingin anak Anda berhenti berbohong, Anda harus dapat melakukan suatu cara agar anak menyadari akibat dari kebohongan yang dilakukannya. Dengan begini, Anda tidak perlu bergantung pada empati anak Anda.
  7. Tetapkan batas dan beri konsekuensi.
    Salah satu hal yang penting dalam mengasuh anak adalah menetapkan batasan pada mereka. Anda memang tidak dapat mengatur anak untuk melakukan sesuatu sesuai harapan Anda. Namun, Anda dapat mengarahkan anak untuk melakukannya. Misalnya, Anda meminta anak untuk masuk ke kamar dan tidur. Tetapi, anak tidak mau tidur.

Maka, Anda bisa mengajaknya masuk ke kamar, dan membuatnya mengantuk. Anda bisa mengombinasikan konsekuensi dan motivasi agar anak pun bisa mengantuk. Katakan, “Kalau tidak cepat tidur, besok bisa bangun kesiangan.” Lalu, padamkan lampu kamarnya, dan matikan televisi atau radionya. Inilah yang akan membantunya untuk mengantuk. Ingat, konsekuensi adalah alat untuk mencapai tujuan.

Konsekuensi yang “efektif” adalah ketika anak mulai merespons, meskipun hanya sesaat. Dengan demikian, Anda tidak perlu menggunakan hukuman yang lebih besar. Jadi, apakah sekarang Anda mengetahui bagaimana cara untuk mengubah gaya pengasuhan Anda?

Sumber photo : fc4pentingers.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *