Bagi kehidupan manusia, keluarga manakah yang tidak ingin memiliki anak? Anak adalah harapan terindah yang sekaligus juga merupakan amanah (titipan) dari Tuhan kepada setiap orang tua. Karena itu sungguh berdosa jika sebuah keluarga sampai tega membuat kehidupan anaknya menjadi menderita.

Orang tua hendaknya memperhatikan kebutuhan dan perkembangan anak-anaknya, agar mereka tumbuh menjadi anak yang sehat, baik jasmani maupun rohani, dan barakhlaqul karimah serta memiliki daya kecerdasan yang tinggi.

Ingatlah bahwa anak dapat membuat hati kedua orang tuanya berbahagia, yaitu apabila anak tersebut berbakti kepada mereka, serta taat dalam menjalankan ibadahnya sesuai dengan keyakinannya. Namun di lain sisi anak juga dapat membuat kedua orang tuanya menderita jika anak tersebut tidak berbakti kepadanya, tidak taat beribadah, ataupun malah terlibat dalam kenakalan yang berurusan dengan hukum, Na’udzubillahimindzalik. Dengan gambaran di atas maka jika sebuah keluarga sudah dikaruniai anak maka tidak ada pilihan lain baginya kecuali harus mengarahkan anaknya agar memiliki kepribadian yang baik.

Apa yang dimaksud dengan kepribadian? Kepribadian atau “personality” berasal dari bahasa Yunani, yakni dari kata “proposon” yang berarti topeng (masker) yang biasa digunakan oleh bangsa Yunani kuno untuk bermain sandiwara. Atau berasal dari bahasa Romawi: “personae” yang berarti pemain drama (sandiwara). Topeng tersebut sering dipakai pemain-pemain panggung untuk menggambarkan perangai, watak atau pribadi seseorang.

Misalnya untuk menggambarkan seseorang yang angkara murka, serakah dan lain sebagainya, maka lalu dipakai topeng yang bergambar raksasa. Sedangkan untuk menggamabrkan seseorang yang berbudi luhur, ditopengkan dengan ksatria. Begitu seterusnya.

Mengapa harus topeng ? Hal ini tidak lepas dari perangai manusia yang dalam kehidupan sehari-hari tidak selalu menampakkan dirinya apa adanya. Akan tetapi lebih cenderung suka menutupi kelemahan dan menampakkan kebaikannya. Hal ini dimaksudkan agar kehadirannya di tengah-tengah masyarakat dapat diterima dengan tanpa noda. Demikianlah maka manusia dikatakan selalu menggunakan tutup muka guna menyembunyikan kekurangannya.

Kembali pada keterkaitan dengan anak tadi, bahwa tugas orang tua menjadikan anaknya untuk memiliki kepribadian yang baik, jujur dan memiliki perangai serta perilaku yang terpuji. Kalo berupa topeng ya berarti topeng seorang ksatria utama, bukan topeng raksasa yang memiliki wajah seram dan menakurkan. Tentu saja hal itu melalui proses yang lama, membutuhkan kesabaran serta keteladanan dari orang tua sendiri.

Dua hal yang harus dipahami oleh orang tua yaitu :

  1. Pada umumnya orang tua tidak menyadari bahwa situasi dan kondisi dalam keluarga tidak lepas dari perhatian anak-anak mereka.
  2. Kondisi kejiwaan anak yang masih rentan terhadap gangguan dari luar dirinya akan cepat bereaksi terhadap kondisi yang kurang dalam keluarganya. Bagi anak yang emosional maka setiap kondisi yang ada di lingkungan keluarganya akan dia tanggapi dengan caranya sendiri. Tidak menutup kemungkinan akan dapat mempengaruhi aktivitasnya dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya jika tingkat ekonomi orang tua kurang, maka anak cenderung bersikap minder tehadap teman-temannya, merasa rendah diri yang tentunya dapat mengganggu kegiatan dan keberhasilan belajarnya. Meskipun itu tidak mutlak, anak yang berasal dari keluarga lemah ekonomi sering juga jauh lebih rajin belajar dan berprestasi. Hal ini tentunya juga sangat dibutuhkan peran orang tua dalam menyikapi keadaan tersebut.

Sebaliknya apabila keluarga sudah dalam kondisi yang cukup secara ekonomi, itupun juga tetap harus pandai-pandai menyikapi. Sebab keadaan ekonomi keluarga yang cukup/mewah, sering kali mengakibatkan kemunduran belajar, dan kedewasaan yang terlambat. Hal ini dikarenakan umumnya anak sering dimanja, semua kebutuhannya selalu terpenuhi. Akibatnya anak akan menjadi malas belajar, nakal dan lain sebagainya. Meskipun itu juga tidak mutlak, keadaan sosial budaya yang tinggi juga dapat menciptakan kondisi yang menunjang kegiatan belajar anak di sekolah.

PERILAKU ANAK

Selama ini banyak orang mempertanyakan tentang hubungan antara budi pekerti dengan moralitas. Sebenarnya budi pekerti jika diterjemahkan dari pengertian moralitas mengandung beberapa pengertian, antara lain adat istiadat, sopan santun dan perilaku. Budi pekerti berkaitan dengan sikap dan perilaku dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, keluarga, masyarakat dan bangsa serta alam sekitar. “Oleh sebab itu pengertian budi pekerti yang paling hakiki adalah perilaku. Sebagai perilaku maka budi pekerti meliputi sikap yang dicerminkan oleh perilaku” (Edi Sedyawati, 2002).

Jadi secara konkrit dapat ditegaskan bahwa perilaku adalah bentuk konkrit dari budi pekerti. Oleh karena budi perkerti merupakan salah satu unsur dalam kejiwaan manusia, maka pada hakekatnya perilaku mencerminkan kondisi psikologis seseorang. Sedangkan salah satu wujud dari perilaku anak (orang) yang dipandang sesuai dengan nilai serta norma yang berlaku di masyarakat adalah kesusilaan.

Mengenai kesusilaan ini Ngalim Purwanto (1997) menjelaskan sebagai berikut: Kesusilaan bukan berarti hanya bertingkah laku sopan santun, bertindak lemah lembut, taat dan berbakti pada orang tua saja, melainkan lebih luas lagi. Selalu bertindak jujur, konsekwen, bertanggung jawab, cinta bangsa dan sesama manusia, mengabdi kepada rakyat dan negara, berkemauan keras, dan berperasaan halus”.

Erat dengan kaitannya dengan masalah perilaku anak adalah misalnya pergaulan antar teman. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi apakah seorang anak diterima atau disingkirkan dari pergaulan antar teman. Hubungan harmonis antar teman atau sebaliknya hubungan yang tidak harmonis antar teman, dapat pula membawa dampak psikososial di masa remaja dan dewasanya kelak. Jadi antara persoalan psikologis dan persoalan sosial dalam arti pergaulan antar teman di masa anak-anak ini saling terkait.

Untuk dapat mengerti dengan baik tentang sikap dan perilaku diperlukan pemahaman keterkaitan antara sikap dan perilaku dengan budi pekerti dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, keluarga, masyarakat dan bangsa serta alam sekitar. Pernah diadakan pengkajian serta rekonseptualisasi terhadap nilai-nilai tersebut, namun kiranya untuk dapat merumuskan secara eksplisit unsur-unsur yang terkandung agaknya terasa sulit.

Jadi intinya adalah bahwa untuk mengatasi kondisi mental anak akibat berbagai kekurangan keluarga jelas diperlukan kreativitas orang tua. Sebab dengan kreativitas maka pengaruh negatif akan semaksimal mungkin dapat teratasi. Yang dimaksud sikap kreatif di sini adalah sikap di mana orang tua tidak mudah berputus asa, tidak mudah menyerah dengan keadaan, selalu berusaha menutupi kekurangan dengan cara berbuat sesuatu yang terbaik, dan cara-cara lain yang tergolong kreatif.

Dalam masalah ini Dedi Supriadi (1996) mengemukakan pendapat sebagai berikut :

“Dalam perspektif sosial budaya, kreativitas dipengaruhi oleh faktyor-faktor ekonomi, sosial, politik dan sejarah. Iklim kehidupan sosial budaya favourable memungkinkan kreativitas tumbuh subur. Sebaliknya iklim sosial budaya yang mengekang dan kurang menjamin rasa aman mengakibatkan kreativitas terhambat”.

Memang jujur saja, sebenarnya iklim dalam sosio budaya kita sangat tidak menjamin tumbuhnya kreativitas. Budaya yang mudah menyerah, mengalah, tidak gigih, malu, sungkan, dan sebagainya. Tidak mengherankan jika sering para pemuda kita ketinggalan dengan kemajuan pemuda dari bangsa-bangsa lain. Agaknya pengaruh penjajahan yang terlalu lama menyebabkan generasi tua kita selalu menaruh curiga tehadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kita berharap seiring dengan perkembangan zaman serta regenerasi sekarang ini sinisme itu berubah menjadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *