Keinginan Tahuan Anak-anak memang terkadang membuat orangtua kebingunggan untuk menjawab setiap pertanyaan pertanyaan yang dilontarkan anak.

Besar dorongan mereka untuk mendapat pengetahuan dan belajar banyak hal baru biasanya akan hadir dalam bentuk pertanyaan “kenapa” yang tak ada habisnya.

Bertanya “kenapa” sebenarnya tidak melulu karena anak penasaran akan suatu hal, pertanyaan itu juga seringkali cara mereka untuk terlibat dan memulai percakapan.

Harusnya orangtua senang jika anak aktif bertanya. Tapi, terkadang pertanyaan itu dilontarkan anak ketika kita sedang repot mengerjakan suatu hal, misalnya memasak atau menyetir.

Berikut adalah beberapa respon yang bisa kita berikan ketika anak terus bertanya, tanpa kita kehilangan kesabaran.

Buat batasan waktu
Ajak anak membuat kesepakatan kapan sebaiknya ia tidak mengajukan pertanyaan, misalnya ketika ibu sedang sibuk di dapur atau sedang memandikan adik bayi. Sebagai gantinya, anak boleh bertanya dengan bebas di luar waktu tersebut.

Ketika anak mengajukan pertanyaan, ingatkan lagi tentang kesepakatan itu dan tawarkan ia untuk membantu ketika kita sedang sibuk melakukan sesuatu.

Anak mungkin tidak akan langsung mematuhi batasan itu, tapi mereka perlu diingatkan terus menerus.

Bertanya balik
Terkadang respon paling efektif untuk pertanyaan “kenapa” adalah bertanya balik.

Anak: “Mama, kenapa sih burung-burung itu makan serangga?”
Mama: “Menurut kamu kenapa ya burung makan serangga?”
Anak: “Mungkin karena rasanya enak.”

Ada kalanya anak mengajukan pertanyaan karena ia ingin membicarakan sesuatu, mengungkapkan teori mereka sendiri. Mereka tak selalu butuh jawaban langsung.

Meresponnya dengan mengajukan pertanyaan balik akan memberi anak kesempatan untuk mencoba menjelaskan dan ini dapat membantu anak mengasah kemampuan kritis dan kreativitasnya.

Contoh lain:
Anak: “Kenapa sih leher jerapah panjang?”
Mama: “Kira-kira menurut kamu kenapa?”
Anak: “Mungkin supaya dia menang kalau main basket”.
Mama: “Hmm.. menurut mama leher yang panjang bisa membantu mereka memakan daun di pohon tinggi. Jerapah suka makan daun.”

Menuliskannya
Jika anak mengajukan penasaran pada suatu hal dan kita tidak punya jawabannya atau tidak ada waktu untuk menjelaskannya saat itu, coba tuliskan pertanyaanya.

Bahkan anak usia dini yang belum bisa membaca atau menulis bisa mengenali ketika kita menuliskan sesuatu itu berarti sesuatu yang penting. Mereka akan merasa dihargai. Jangan lupa untuk memberitahunya jika kita sudah tahu jawabannya.

Aku tidak tahu
Jangan merasa kita harus menjawab semua pertanyaannya. Terkadang, “Aku tidak tahu” adalah respon yang bisa diterima.

Tunjukkan pada anak untuk mencarinya bersama-sama di buku atau di internet. Tunjukkan pada anak cara mencari buku dengan topik tertentu di perpustakaan atau rak buku di rumah. Kita tidak harus melakukan ini setiap kali, tetapi mencari jawaban bersama-sama bisa menjadi cara menyenangkan untuk menumbuhkan motivasi belajar pada anak.

Mengajak ngobrol
Anak-anak masih belajar berkomunikasi dan cerewet mengajukan pertanyaan adalah cara mereka belajar. Saat anak mengajukan pertanyaan yang terdengar seperti pertanyaan yang sebenarnya, kita dapat mengartikannya ia sedang berusaha memulai percakapan.

Harus diakui sebagai orangtua tentu terkadang merasa bosan dan lelah harus selalu memberi penjelasan pada anak. Namun, jangan sampai kita memberi respon yang keliru sehingga anak malas bertanya dan mencari tahu tentang dunia yang luas ini.

Jika kita sedang lelah, cobalah tarik napas dan pikirkan mengapa si kecil mengajukan pertanyaan pada saat ini. Apakah itu memang karena ia ingin tahu atau sekadang ingin mencari perhatian. Dengan memahami maksut anak, kita pun bisa memberikan respon secara bijak.

Sumber artikel dan foto : www.msn.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *