Memiliki anak yang aktif kadang membuat orang tua kewalahan. Tak sedikit orang tua yang meminta anaknya berhenti saat berlari-larian. “Nafiah berhenti, jangan lari- larian nanti jatuh,” ujar Diah kepada si upik.

Padahal, anak yang bergerak aktif itu baik untuk kesehatan fisik juga jiwanya. Dokter pemerhati gaya hidup, Dr Grace Judio-Kahl MSc MH mengatakan, anak itu pada dasarnya pasti akan aktif. Anak berbeda dengan orang dewasa. Perbedaan pertama, kaki anak masih kecil sehingga bila berjalan dengan jarak yang sama dengan orang tua, langkah anak akan lebih banyak dan jauh lebih aktif daripada orang tua.

Kedua, anak belajar dengan cara banyak bergerak, sementara orang dewasa belajar dari banyak membaca, melihat komputer, dan lain- lainnya. Selain itu, anak juga mencari jati diri dengan olahraga. Anak yang banyak melakukan aktivitas fisik, menurut Grace, akan membuat si anak sehat.

“Secara fisik anak yang lebih aktif lebih sehat, karena merangsang pertumbuhan dia, kalau tulang enggak digerakin ototnya enggak bisa terstimulasi jadi tambah besar dan membuat otot baru. Nah, otot baru meningkatkan metabolisme juga, memancing tulang untuk bertumbuh. Dengan olahraga atau bergerak juga memicu kalsium menjadi lebih padat, juga bisa membuat anak bertambah tinggi juga,” ujarnya ketika ditemui usai acara peluncuran Milo Champ Squad di Jakarta, Kamis (14/7).

Grace mengatakan selain itu ciri-ciri anak sehat secara fisik bisa dilihat dari pertumbuhannya. Misalnya dilihat dari tingginya, kesesuaian dengan grafik perkembangan. Begitu pula tampilan fisiknya. Anak yang sehat secara fisik ceria, ada warna di pipi dan bibir nya. “Sehitam apa pun kulitnya bisa terlihat yang mana yang cerah dan tidak, di bagian bawah dalam matanya merah bukan pucat, kukunya juga merah bukan pucat,” jelasnya.

Nutrisi tepat

Nah untuk membuat anak sehat, selain bergerak aktif, menurut Dokter Grace, tentu juga membutuhkan nutrisi yang baik. Di sini orang tua memegang peranan penting dan paling besar. Terutama karena anak makan apa yang disediakan orang tuanya.”Makan disesuai kan dengan kebutuhan tumbuh kembang dan aktivitas anak,” sarannya.

Untuk anak usia sekolah 7 sampai 12 tahun tentu kebutuhan gizinya berbeda pada setiap usia. Untuk anak usia tujuh sampai sembilan tahun kebutuhan gizinya sekitar 1.850 kalori sedangkan usia 10 sampai 12 tahun, untuk anak perempuan membutuhkan 2.000 kalori, anak laki- laki 2.100 kalori. Kebutuhan gizi harus memenuhi makronutrien seperti protein, lemak, karbohidrat, serat dan air. Juga harus mengandung mikronutrien yaitu vitamin dan mineral.

Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak bisa mengambil dari sumber makanan, misalnya karbohidrat ada nasi, kentang, dan lainnya. Protein dari ayam, tempe, tahu dan lainnya. Lemak dari daging. Dan vitamin mineral juga serat dari buah dan sayur.

“Penting diingat, energi yang masuk harus seimbang dengan energi yang dikeluarkan,” tambahnya.

Kesehatan psikologis

Psikolog anak, Roslina Verauli MPsi mengatakan, aktivitas fisik membuat anak menjadi lebih sehat. Tapi secara psikologi, kemampuan kognitif juga terasah saat anak melakukan kegiatan olahraga. Fungsi yang berperan saat memberi atensi, konsentrasi, memberi keputusan, memecahkan masalah, itu akan terlatih saat anak berolahraga.

“Ada riset yang menunjukkan setelah diberikan aktivitas olah raga yang memadai setiap hari untuk anak, ter nyata anak-anaknya jadi lebih tinggi performa akademis di sekolah, lebih tinggi konsentrasi dalam belajar, perilaku yang bersifat agresif menurun,” ungkap dia.

Penelitian di Departemen Pendidikan Amerika Serikat, ada sekolah di mana waktu belajarnya lebih panjang, performa sekolah atau akademisnya lebih baik sehingga banyak sekolah yang mengurangi jam istirahat. Tapi, dampaknya pada anak ternyata berbanding terbalik. Anak menjadi lebih agresif, konsentrasi berkurang, performa akademisnya menurun.

Riset ini mengatakan, ketika diberikan kegiatan olahraga seperti lari, lompat, dan tiga kali waktu istirahat (dengan waktu sekolah lima sampai tujuh jam), hasilnya anak lebih baik, lebih bisa berkonsentrasi.

Anak aktif bisa mengoptimalkan kemampuan atensi konsentrasi. Ia tidak hanya cerdas akademis, tapi juga mempunyai mental baik, kualitas psikososial matang. Matang secara psikologis, misalnya dia percaya diri, pantang menyerah, tidak agresif. Kualitas yang matang, maksudnya, mampu bekerja sama, mampu menjadi pemimpin, tapi juga bersedia jadi pengikut. “Itu kualitas mental yang kita butuhkan semua, itu sarana untuk mengembangkan kualitas mental. Jadi, anak harus olahraga dan istirahat,” tambah Vera.

Sementara anak yang kurang gerak akan memiliki keluhan-keluhan fisik, sukar konsentrasi dan perilaku disruptif di kelas.

Aktivitas yang dianjurkan

Vera menjelaskan, anjuran aktivitas fisik un – tuk anak berbeda. Untuk usia bermain (player), setidaknya aktivitas bermainnya lima jam per hari. Kegiatan bermain harus seimbang bermain aktif dan pasif. Misalnya bermain pura-pura, lari-larian, dan lainnya Sedangkan untuk anak usia sekolah, kegiatan bermain mengalami sedikit perubahan. Kegiatan bermain berubah menjadi olahraga, permainan yang mempunyai aturan. Anak bermain dengan intensitas yang sedang, setidaknya 1 jam per hari. `’Jadi, setiap hari, bukan akhir pekan,” katanya.

Dengan ikut olahraga anak mengetahui di area mana dia kompeten atau memiliki kemampuan terbaik. Misalnya joging, sepeda, dan rnang. Sayangnya, menurut Vera, data anak usia sekolah dengan aktivitas fisik memadai untuk anak laki-laki hanya 49 persen, sedangkan untuk anak perempuan hanya 35 persen. “Anak harusnya diberi kesempatan beraktivitas fisik dalam kegiatan olahraga, terutama bersama teman sebaya dan keluarga,” sarannya.

Grace menambahkan untuk aktivitas fisik anak, batasan minimal bisa memacu pada piramida aktivitas. Menurut dia, aktivitas fisik paling banyak sehari-hari adalah berjalan, bermain-main di rumah.

Di sekolah anak juga sebaiknya jalan, melakukan aktivitas sehari-hari yang banyak. Sedangkan aktivitas fisik terbanyak kedua adalah aktivitas aerobik, banyak lari, renang, atau sepak bola, paling tidak dua sampai tiga kali sepekan selama tiga puluh menit. Berikutnya ada latihan beban, seperti wushu, karate, pencak silat. `’Untuk yang ini lebih sedikit tidak mengapa, paling tidak satu sampai dua kali sepekan, 30 menit,” kata Grace.

Ia juga mengingatkan, ada lagi jenis kegiatan yang seharusnya mendapat porsi yang lebih sedikit: main game. `’Yang duduk-duduk saja harusnya lebih sedikit,” kata dia. Oleh Desy Susilawati ed: Nina Chairani

Memantau Asupan Nutrisi dan Gerak Anak

Orang tua, menurut Dr Grace Judio- Kahl MSc MH, penting memonitor aktivitas anak dan kebutuhan gizi anak sehingga sehat sesuai usia. Nestl? Milo menghadirkan Milo Champ Squad.

Yakni, sebuah perangkat pelacak aktivitas dan pemantau asupan makanan agar para ibu dapat terus memonitor kesehatan dan kebugaran anak.

Perangkat itu terdiri dari Milo Energy Band yang terhubung dengan aplikasi smartphoneMilo Champ ID, Milo Champ Squad didesain untuk mendorong anak, khususnya usia 7 sampai 12 tahun, mengadopsi gaya hidup aktif dengan cara yang menyenangkan.

Brand Manager Nestl? Milo Jeffri Ricardo mengatakan, “Milo Champ Squad dilengkapi dengan dua fitur utama yaitu Analisa nutrusi dan Activity Planner’. `Analisa Nutrisi’ membantu ibu untuk menyesuaikan dan menyeimbangkan pola makan anak dengan memberikan informasi kalori, nutrisi, vitamin dan mineral hanya dengan memasukkan agenda makanannya mulai dari sarapan hingga camilan. Berdasarkan asupan makanan ini, Milo Champ Squad dapat memberikan rekomendasi aktivitas fisik yang sebaiknya dilakukan.”

Sedangkan melalui fitur `Activity Planner’, anak-anak didorong untuk melakukan aktivitas fisik seperti bermain sepak bola dan lari. Untuk semakin terpacu, mereka dapat mengajak temannya yang juga menggunakan perangkat ini untuk saling berkompetisi dalam tantangan berbentuk permainan maupun olahraga. Mereka juga bisa mengumpulkan special badges ketika sudah berhasil meraih pencapaian-pencapaian tertentu serta berkreasi menciptakan karakter avatar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *