Anak adalah anugerah yang Allah Ta’ala berikan pada setiap pasangan yang Allah kehendaki. Namun, mendidik menjadi anak shaleh / shalehah merupakan tugas orang tua yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di hari akhir nanti. Tetapi menjadikan anak shaleh/shalehah tak bisa dilakukan secara instant, perlu ketekunan dan istiqomah.

Lalu apa yang harus sahabat abiummi lakukan untuk mendapatkan anugerah anak shaleh/shalehah?

Triana Luthfiyah Lc, M.Ag, pemilik sekaligus pengelola sekolah karakter Madinatul Qur’an, Jakarta yang juga mendalami ilmu syariah dan Qur’an Tafsir, mengatakan bahwa ada 7 hal yang harus diperhatian orang tua sebagai upaya mendidik anak agar menjadi anak shaleh /shalehah.

Allah berfirman:
“Katakanlah, jika engkau (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Ali Imran: 31)

Berdasarkan ayat di atas disebutkan bahwa mencintai Allah Ta’ala merupakan hal yang amat penting sebagai pegangan hidup di dunia untuk mendapat kebahagiaan di akhirat. Jika kita menginginkan anak shaleh/ shalehah, sebagai orang tua kita harus menanamkan kecintaan anak pada Allah sedini mungkin agar kelak disaat anak sudah dewasa segala aktifitas, sepak terjang atau tingkah lakunya berdasarkan cinta yang besar kepada Allah.

Iman kepada Allah harus menjadi pondasi yang kokoh bagi setiap insan untuk mengarungi kehidupan dunia fana agar tidak tergelincir ke jalan yang sesat. Jika cinta pada Allah telah menjadi nafas mereka maka tidak akan sulit untuk memiliki anak shaleh/shalehah.

Salah satu cara mendidik anak agar menjadi anak shaleh / shalehah adalah dengan mengenalkan kalimat tauhid sedini mungkin. Jika mungkin sejak anak masih dalam kandungan. Namun bila masa itu sudah terlewat maka kumandangkanlah kalimat tauhid di telinganya / mentalqin anak yang baru lahir . Setelah anak berada di dunia sering-sering juga memperdengarkan kalimat tauhid pada anak, agar anak tidak sulit untuk dibentuk menjadi anak shaleh/ shalehah.

Abdullah bin Abbas Ra. dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi dengan sanad yang hasan, Ibnu Abbas bercerita : “Pada suatu hari aku pernah berboncengan di belakang Nabi (di atas kendaraan), beliau berkata kepadaku: “Wahai anak, aku akan mengajari engkau beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Allah di hadapanmu. Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Jika engkau meminta tolong, minta tolonglah kepada Allah”

Meminta pertolongan hanya pada Allah.
Biasakan anak untuk meminta pertolongan hanya pada Allah. Tanamkan dalam benak anak Jika Allah adalah satu-satunya penolong dalam segala situasi dan kondisi. Misalnya, suatu hari anak meminta dibelikan mainan sementara saat itu belum ada anggarannya maka biasakan dan latih anak untuk meminta pertolongan Allah.

Katakan padanya, “Adik berdoa ya sama Allah supaya Abi dan Ummi diberi rezeki lebih agar bisa membeli mainan yang adik inginkan.”

Jangan pernah berkata, “nanti ya kalau Abi gajian baru di beliin.” Karena jika orang tua berkata seperti itu anak akan merasa bahwa selama ini orang tuanyalah yang selalu menolong dan selalu ada disaat dia butuh.

Melatih anak untuk bisa melakukan sendiri pekerjaan atau kegiatan ringan yang dapat ia lakukan merupakan salah satu cara mendidik anak menjadi anak shaleh/ shalehah. Karena selain untuk melatih anak agar tidak bergantung pada manusia hal tersebut juga dapat memupuk rasa percaya diri. Selain itu juga merupakan latihan agar anak belajar mematuhi perintah orang tua. Sebagai cara untuk menididik anak menjadi anak shaleh.

Misalnya untuk balita biasakan untuk mengambil minum sendiri. Agar mempermudah dan menghindari bahaya, letakkan dispenser air di tempat yang mudah dijangkau anak.

Biasakan mengambil piring sendiri saat ia hendak makan, untuk itu sediakan beberapa piring di rak kecil yang mudah dijangkau anak. Jangan terlalu sering membantu anak karena itu akan membuat ia tergantung dan merasa bahwa kitalah penolongnya.

Dan jangan lupa beri apresiasi jika anak bisa dan mau mengerjakan pekerjaan tersebut. Sahabat abiummi bisa mengatakan “Alhamdulillah anak shaleh/shalehah makin pintar.”

Biarkan anak mandi sendiri jika dia menginginkannya. Jangan tolak keinginannya hanya karena kita melihat bahwa anak mandi tidak bersih. Ajarkan dengan lembut mana yang mesti diperbaiki. Itu akan membuat anak merasa dihargai dan merasa berarti. Otomatis sikap itu akan menumbuhkan rasa percaya diri. Harus banyak bersabar untuk mendidik anak agar menjadi anak shaleh/shalehah.

Merasa selalu diawasi Allah (muroqobah)
Buat anak merasa bahwa Allah selalu mengawasi tiap tingkah laku dan perbuatannya. Contohnya ketika anak dilarang minum es karena dia sedang batuk. Tetapi sebenarnya kita mengetahui bahwa ia minum es sembunyi-sembunyi.

“Adik tadi minum es nggak?”

“Nggak kok Ummi aku nggak minum es.”

“Oh ya sudah anak shaleh Ummi pasti berkata jujur. Tapi adik tahu kan bahwa Allah maha Melihat dan Maha mengetahui jadi apapun yang kita perbuat Allah pasti tahu. Ummi mungkin tidak melihat tapi Allah selalu melihat.”

Jangan lupa untuk memberi reward atau hadiah terhadap progress yang anak lakukan. Reward dapat berupa pelukan, ciuman atau pujian. Sering sering lah memangggilnya ‘anak Shaleh” agar menjadi doa. Hal yang sama dapat juga dilakukan sebagai cara mengajar shalat pada anak agar menjadi shaleh/shalehah. Beri kepercayaan, jangan menyangsikan pernyataannya dan katakan bahwa Allah selalu mengawasi kita.

Mengenal dan mencintai Rasulnya
Buatlah anak mengenal dan mencintai Rasulnya karena itu merupakan salah satu dari sekian banyak cara mendidik anak agar menjadi anak shalehah. Ceritakan perjalanan hidup Nabi Muhammad Shallahu alaihi wasallam dari sejak ia dalam kandungan hingga beliau wafat.

Ceritakan pula kisah keluarga Rasulullah dan para sahabat. Sampaikan cerita tersebut dengan cara yang menarik seperti para pendongeng professional. Karena secara naluri anak usia balita sangat senang dibacakan cerita terlebih Sahabat Abiummi membacakan cerita tersebut dengan gaya teatrikal sehingga tampak lebih menarik.

Setelah diceritakan maka ajaklah anak untuk mengamalkan satu persatu nilai-nilai kebaikan yang terkandung dalam cerita tersebut. Seperti minum dengan tangan kanan. Tidak minum sambil berdiri terlebih berjalan, Selalu menebar salam, bersifat lemah lembut pada siapa saja. Bersifat amanah` dan sebagainya. Jika anak sahabat abiummi sudah meneladani Rasulullah maka otomatis mereka sudah menjadi anak shaleh/shalehah.

Mengajarkan Alquran
Perdengarkan ayat-ayat quran setiap hari agar anak mengenal bacaan quran. Caranya dengan memperdengarkan surat yang sama 4 kali dalam sehari selama satu minggu. Misalnya memperdengarkan surat al-Fatihah sehari 4 kali dilakukan selama seminggu berturut-turut. Lalu setelah satu minggu ganti lagi surat Annas dengan cara yang sama dan seterusnya.

Namun jika anak sudah dapat dan mau diajarkan membaca alquran maka ajarkanlah perlahan lahan dari mulai mengeja hingga akhirnya dapat membaca dengan lancar. Memang tidak mudah dan butuh kesabaran. Tapi yakinkan dalam hati dan mintalah bantuan Allah SWT agar anak kita menjadi anak yang shaleh/shalehah.

Kajilah satu ayat lalu diterjemahkan dan direnungi (mentadaburi ) isinya juga merupakan salah satu cara mendidik anak secara islami yang efektif. Jika anak telah mampu mendengarkan, membaca, memahami maka pelan pelan latih anak untuk menghafalkan lalu mengamalkan ayat ayat yang sudah dihafal.

Percaya qodo dan qodar
Cara mendidik anak agar menjadi shaleh/shalehah adalah dengan melatih anak untuk mengimani qodo dan qodar melalui kejadian sehari-hari yang sering terjadi. Misalnya mainan kesayangan anak hilang. Lalu anak marah dan menangis. Hal yang paling baik kita lakukan adalah mengatakan pada anak bahwa hilangnya mainan itu merupakan takdir Allah. Mungkin saat ini anak merasa tidak nyaman, Tetapi bisa jadi Allah akan menggantikannya dengan mainan yang lebih baik. Atau menurut Allah mainan itu kurang baik untuk kesehatan dan sebagainya.

Yakini anak bahwa Allah lah sang penentu takdir. Allah maha mengetahui apa yang terbaik untuk tiap makhluknya. Bisa ditambah dengan cerita sahabat Rasul atau perjalanan Rasulullah yang berhubungan dengan iman kepada qodo dan qodar.

Iman adalah hal pertama yang harus kita tanamkan pada anak sebelum anak mengenal ilmu apapun. Abi ummi juga harus memahami bagaimana cara mendidik anak menjadi anak shaleh/shalehah dengan menanamkan kecintaan pada Rasulluah, karena ini juga bagian dari keimanan yang harus mendasari ilmu yang kelak akan dimiliki anak.

Untuk mengajarkan anak mengenai keimanan pada Rasul hendaknya kita menyesuaikan dengan jenjang usianya. Karena cara mendidik anak agar menjadi anak shaleh/shalehah melalui kecintaan pada rasul dapat dilakukan dengan banyak cara. Diantaranya bisa dengan bercerita, berkisah dan mendongeng.

Mengapa bercerita? Menurut aktivis teater Kanvas Dwi Cahyadi, bahwa semua anak terutama anak diusia balita pasti senang mendengarkan dongeng atau cerita. Terlebih cerita dengan gaya treatrikal yang menarik baik dari segi gerakan tubuh maupun intonasi suara.

Nah, insya Allah sahabat Abiummi bisa menjadikan generasi islam yang tangguh dan beramal shaleh/shalehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *